Mahasiswa Dimata Dosennya

Mahasiswa Dimata Dosennya

Oleh. M. Eko Purwanto

Dua puluh tiga tahun lalu, saya adalah seorang mahasiswa yang begitu segan dengan keberadaan Dosen-dosen saya. Mulai dari yang paling ‘Killer’ sampai yang lembut dan menyejukkan. Tapi apapun keberadaan mereka, saya begitu antusias berdiskusi dan selalu menghargai keberadaan mereka apa adanya. Sekarang, saya sudah puluhan tahun menjadi seorang Dosen, tapi justru sekarang saya begitu menghargai mahasiswa-mahasiswa saya yang memiliki antusiasme belajar dan rajin mengikuti perkuliahan.

Tampaknya, memang tidak ada perubahan sikap dalam diri saya, sejak menjadi mahasiswa dulu, hingga sekarang ini. Sikap menghargai orang-orang yang senang menuntut ilmu. Ketika saya menjadi seorang mahasiswa, Dosen adalah orang yang berilmu tinggi dan orang yang wajib diteladani, apapun kondisi mereka. Namun saat ini, saya justru menganggap para mahasiswalah yang mampu memacu saya untuk memiliki ilmu yang tinggi dan semangat untuk terus mencari.  Bagi saya, mahasiswalah yang selalu mengobarkan rasa ingin tahu, dan menyalakan semangat saya untuk terus belajar.

Beberapa hari lalu, saya mendapatkan kiriman artikel melalui WA (Watsapp) dari seseorang, yang mungkin dari seorang mahasiswa saya. Artikel yang ditulis dari seorang Dosen UI itu mengisahkan pengalamannya ketika ia melanjutkan studi di negeri Paman Sam. Ia mengatakan bahwa, mahasiswa asing yang sekolah di Amerika begitu terkesan dengan para Guru dan Dosen di Amerika, karena mereka begitu menghargai upaya murid-murid atau mahasiswanya dalam menuntut ilmu. Dari sepenggal dialog kisah dalam artikel tersebut mengatakan, “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini (Di Amerika) bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju.”

Dalam artikel tersebut, ia menyatakan bahwa kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita. Sang Dosen UI itu juga mengisahkan bahwa ia begitu mudahnya bergelimang nilai ‘A’, dari program Master hingga Doktor di Amerika. Sementara di Indonesia, ia harus menyelesaikan studinya jungkir balik ditengarai ancaman drop-out, dengan para penguji yang siap menerkam. Padahal, menurut Dosen UI itu, “saat menempuh ujian program doktor di luar negeri, saya dapat melewatinya dengan mudah.”

Ia menuturkannya begini, “pertanyaan para dosen penguji memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun, suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya, sedangkan penguji yang lainnya tidak ikut menekan. Melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.”

Ia juga mengemukakan bahwa suasana ujian di Amerika sana, penuh dengan puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Namun, pada saat ia kembali ke Tanah Air, justru banyak hal yang terjadi sebaliknya, dimana para penguji bukannya saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian ?!.

Memang secara etis seorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan. Namun, yang sering terjadi dalam kampus-kampus kita justru penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya ?!. Sehingga, banyak Dosen, yang berperilaku seperti ini, mengalami frustrasi yang begitu besar, jika menyaksikan bagaimana para Dosen Penguji tersebut berperilaku kurang manusiawi. Mereka seharusnya melakukan encouragement, bukannya discouragement ?!.

Ketika saya mencoba merenungi tulisan seorang Dosen UI tersebut, ternyata apa yang dilakukan oleh seorang Dosen kepada mahasiswanya bukan hanya mendorong mahasiswanya untuk maju dan berkembang saja, tapi juga mampu mendiskusikan solusi yang baik bersama mahasiswanya. Mahasiswa dan Dosen perlu mengikat hubungan yang bukan hanya secara korelasioal, tapi juga secara fungsional, seperti halnya sebagai teman, orang tua atau bahkan sebagai pembimbing pribadinya dalam hal akademis mahasiwanya ?!. Wallahu A’lamu Bishshawwab.