Membentuk Mental Peneliti ?!

Membentuk Mental Peneliti ?!

Oleh. M. Eko Purwanto

Seharian kemaren, saya menguji skripsi mahasiswa, berbagai argumentasi muncul dari mulut para mahasiswa, dalam mempertahankan dan meyakinkan saya, bahwa apa yang mereka teliti itu adalah hasil usahanya sendiri. Berbagai pemikiranpun mengalir deras seiring dengan berbagai kebenaran yang ia temukan bersamaan dengan hasil penelitian ilmiah yang ia selesaikan. Inilah upaya sebuah institusi pendidikan untuk mampu melahirkan mental-mental peneliti bagi mahasiswanya.

Skripsi yang disusun dari hasil sebuah penelitian ilmiah mahasiswa, merupakan tugas akhir bagi mahasiswa untuk menyelesaikan program Strata Satunya. Sementara, Tesis adalah penelitian ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa untuk mengakhiri program Strata Duanya. Sedangkan, Disertasi adalah karya tulis-menulis mahasiswa yang dibarengi dengan berbagai penelitian sebelumnya, guna menyelesaikan program Strata Tiganya. Semua karya ilmiah ini merupahan hasil dari sebuah upaya penelitian ilmiah. Disinilah kita memahami bahwa tugas pendidikan tinggi di seluruh dunia adalah membentuk mental-mental peneliti, dan inilah hakekat keberadaan manusia di muka bumi ini untuk menjadi peneliti yang militan, sekaligus sebagai agen-agen perubahan dalam masyarakat.

Kita masih merindukan masyarakat yang memiliki jiwa dan mental peneliti. Ketika kita memiliki jiwa atawa mental seperti ini, maka penelitian adalah hidup itu sendiri. Penelitian itu nikmat dan berharga pada dirinya sendiri. Entah ada dana atau tidak, ada hibah atau tidak, ada yang memesan atau tidak, ada poin atau tidak, mereka tetap saja meneliti.

Masyarakat kita, baik yang berada di dunia akademis, maupun bukan, masih begitu merindukan lahirnya generasi baru peneliti. Dengan berkembangnya penelitian di berbagai bidang kehidupan, maka akan terbentuk masyarakat yang mempunyai habitus (kebiasaan yang tertanam di dalam gugus berpikir dan tindakan) baru, di mana mereka (para peneliti dan akademisi) tidak lagi meneliti untuk mengejar proyek (pemburu hibah dan peneliti pesanan) atau mengumpulkan angka semata (guna cepat meraih gelar guru besar/professor), melainkan untuk mencari kebenaran (truth seeking) sesuai dengan bidangnya masing-masing, dan, dengan demikian, akan mengangkat harkat dan martabat manusia (human dignity) itu sendiri.

Kita, mungkin tidak menyadari bahwa hidup kita sehari-hari adalah melakukan tindak penelitian (research). Karena kata ‘Re-Search’ berarti mencari kembali. Oleh karena itu, kita selaku individu selalu melakukan proses pencarian kembali, atawa mengkritisi persoalan hidup kita sendiri, baik yang sudah, sedang dan belum kita jalani. Penelitian apapun bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun kita berada. Sehingga seorang peneliti adalah orang-orang yang memiliki jiwa, mental dan pemikiran yang kritis, rasional dan  sistematis.

Menurut Onora O’Neill, dalam Interpreting The World, Changing The World, Majalah Philosophy Now, Edisi Maret/April 2013, ia menyatakan bahwa semua bentuk penelitian, lahir dari pertanyaan dan keraguan, namun tak selalu bisa mengarah pada hasil nyata yang bersifat ekonomis. Tidak ada satu penelitian tunggal yang secara langsung bisa menghasilkan produk nyata yang menghasilkan uang. Setiap bentuk penelitian adalah hasil dari kumpulan ratusan bahkan ribuan penelitian lainnya yang berkembang sejalan dengan perubahan waktu dan perkembangan pemahaman manusia itu sendiri.

Sebuah penelitian itu adalah sebuah mata rantai yang terus-menerus berlanjut, tanpa henti. Bahkan, apapun yang kita pelajari di sekolah-sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai tingkat doktoral, merupakan buah karya dari berbagai penelitian terdahulu.

Seorang yang memiliki jiwa dan mental peneliti selalu memiliki kesadaran kritis (critical consciousness) untuk senantiasa mengamati dan menilai situasi sekitar dengan tajam dan jernih. Sehingga, orang-orang yang memiliki jiwa dan mental peneliti ini akan selalu memiliki  kemampuan untuk menulis secara jernih dan sistematis. Seseorang yang tidak memiliki jiwa dan mental peneliti, kepekaan dan solidaritas sosialnya tak akan bisa tumbuh, karena pikiran dan hati nurani dikepung oleh suara-suara dan pembicaraan yang seringkali dangkal dan mengaburkan pikiran itu sendiri.

Ketika budaya penelitian, yang lahir dari jiwa-jiwa peneliti yang kritis, reflektif, dan kreatif belumlah terbentuk, maka masyarakat kita akan selalu terhipnosis oleh televisi yang memberikan tayangan visual tanpa imajinasi, dan kultur ngerumpi dangkal tanpa refleksi. Sementara, di sisi lain perkembangan teknologi telah menghasilkan alat-alat canggih yang justru menjauhkan generasi masyarakat muda dari sikap reflektif-kritis, dan mendekatkannya pada budaya ngerumpi virtual (media sosial yang digunakan secara dangkal) yang akan menumpulkan pikiran-pikiran mereka. Oleh karena itu, banyak para guru dan dosen mengeluh, karena apa yang mereka berikan di kelas sebagai bahan ajar, ternyata kalah bersaing dengan iklan dan sinetron televisi yang lebih menghibur di satu sisi, namun memperbodoh di sisi lain?!

Budaya ini, terlihat begitu jelas, diaman para mahasiswa dan bahkan para dosen itu sendiri, sekarang ini mengalami kesulitan besar, ketika diminta untuk menghasilkan karya tulis yang sistematikanya jernih dan mencerahkan. Banyak karya tulis ilmiah maupun populer dirumuskan dengan sembarangan, kaku dan sulit dipahami oleh masyarakat awam, sehingga amat sulit untuk menjadi bahan pengetahuan yang nikmat dicerna, dibaca, apalagi dipahami. Dengan kondisi semacam ini, kita bisa mengerti, mengapa generasi baru peneliti yang kritis, kreatif, dan peka pada kemanusiaan sulit sekali tumbuh dalam kehidupan masyarakat kita.

Salah satu latihan yang cukup mendasar untuk menumbuhkan jiwa dan mentak sebagi seorang peneliti yang kritis dan kreatif, adalah dengan menulis berbagai karya ilmiah. Oleh karen itu, setiap jenjang akademis dalam pendidikan kita, selalu diakhiri dengan menulis Karya Tulis yang dibalut dengan penelitian ilmiah, baik itu berupa Laporan Kerja, Skripsi, Tesis maupun Disertasi.

Mungkin perlu juga kita pahami, bahwa peran peneliti amatlah besar untuk mengembangkan dan melestarikan peradaban masyarakat kita. Para penelitilah yang berhasil mematahkan pandangan-pandangan lama yang membelenggu dan menindas martabat kita, selaku individu dan masyarakat. Mereka mampu mengoreksi kesalahan-kesalahan berpikir yang tersebar di masyarakat, melalui penelitian mereka yang memang termotivasi untuk menemukan kebenaran di berbagai bidang. Mereka bisa jadi merupakan orang-orang yang mampu menyalakan dan pemegang obor peradaban ?!

Namun, sungguh sangat disayangkan, apabila orientasi dan motivasi para peneliti kita saat ini, yang semestinya ditujukan sebagai upaya untuk mencari kebenaran dan melenyapkan kesalahan berpikir masyarakat kita, kini telah luntur dan nyaris sirna. Para peneliti di saat ini, berubah menjadi ‘budak’ dari hibah dan bisnis-industri, yang seringkali justru membelenggu dan menindas kemanusiaan. Motivasi penelitian mereka tidak lagi murni berpijak pada rasa ingin tahu dan upaya memperbaiki kehidupan bersama, yang ujung-ujungnya mereka bukan lagi agen perubahan paradigma, tetapi semata alat untuk membenarkan paradigma yang sudah ada dan terbukti salah di masyarakat kita?! Wallahu A’lamu Bishshawwab.