Hidup Yang Beradab, Cermin Dari Mentalitas Ilmiahnya?!

Hidup Yang Beradab, Cermin Dari Mentalitas Ilmiahnya?!

Oleh. M. Eko Purwanto

Dalam penutupan Sidang Telaah Proposal Penelitian bagi mahasiswa Prodi Manajemen, saya atas nama pimpinan lembaga penelitian mengungkapkan bahwa keberhasilan mahasiswa menyelesaikan tugas akhir berupa skripsi, juga merupakan keberhasilan seluruh sivitas akademika sebuah kampus. Jika karena sesuatu hal, mahasiswa gagal lulus dalam mempertahankan karya tulis ilmiahnya sendiri, maka juga berarti kegagalan seluruh sivitas akademikanya. Bisa jadi yang merasa begitu kecewa adalah mahasiswa itu sendiri, bisa juga dosen pembimbingnya, bahkan pengujinya pun merasakan kekecewaan mereka.

Saya mencoba mencerahkan mahasiswa dan beberapa pimpinan struktural yang hadir dalam penutupan kegiatan Sidang Telaah proposal Penelitian, bahwa hubungan yang sinergis antara mahasiswa dan dosen pembimbing merupakan kunci sukses keduabelah pihak, baik si mahasiswa maupun dosen pembimbing itu sendiri. Sehingga, kekurangan yang biasanya ada pada mahasiswa bisa dilampaui dengan intensitas bimbingan yang dilakukan. Sesuai penugasannya, dosen pembimbing memang bertugas untuk membimbing serta memberikan dorongan, semangat, bahkan memperbaiki hasil pada draft skripsi yang sedang disusun oleh mahasiswa bimbingannya.

Secara prosedural, jika ada seorang dosen pembimbing yang dirasakan kurang memenuhi kriteria pembimbingan menurut mahasiswa, maka si mahasiswa itu bisa mengajukan penggantian terhadap dosen pembimbing tersebut. Namun, bagi seorang dosen pembimbing tidak bisa begitu saja meminta pengganti mahasiswa yang dibimbingnya itu, tanpa alasan yang rasional dan diterima secara akademis. Dari sini, saya melihat bahwa mahasiswa memiliki kekuasaan yang lebih terhadap dosen pembimbingnya. Tapi sayangnya, banyak mahasiswa kurang memanfaatkan dengan baik. Padahal dengan bimbingan yang begitu intesif, akan sangat bermanfaat buat mahasiswa itu sendiri.

Masih banyak mahasiswa yang kurang memanfaatkan intensitasnya untuk melakukan diskusi-diskusi akademis terkait dengan penyelesaian tugas akhirnya. Ketika mahasiswa yang saya bimbing, dengan mudah meng-email skripsinya kepada saya dan kemudian saya koreksi, dan kemudian saya email balik hasil koreksian tersebut, bukan berarti diskusi tidak diperlukan lagi. Diskusi membahas per item, per bab, per sub bab atau apalah itu, merupakan sesuatu yang vital dilakukan.

Memang ada pengaruh yang signifikan antara intensitas diskusi mahasiswa dengan pembimbingnya, terhadap hasil ujian sidang skripsi yang dihadapi mahasiswa. Mahasiwa yang kurang melakukan diskusi dengan pembimbingnya, akan gelagapan alias kurang mampu menjawab pertanyaan pengujinya. Lebih parah lagi jika si mahasiswa melakukan copy-paste terhadap karya orang lain, tanpa melihat apa yang copy-paste sesuai atau tidak dengan variabel yang ditelitinya.

Saya menduga-duga saja, bahwa mahasiswa yang melakukan copy-paste itu merasa sudah mampu menyelesaikan tugas akhirnya, sehingga ia sendiri mengurangi intensitas pertemuan dengan dosen pembimbingnya dengan berbagai alasan, yang ujung-ujungnya ia sendiri merasa kesulitan menjawab pertanyaan penguji terhadap skripsi yang ia buat sendiri. Atau, memang mahasiswa itu tidak paham dengan apa yang mereka buat itu.

Bagi Perguruan Tinggi, penelitian merupakan kegiatan primer, selain pendidikan dan pengabdian masyarakat. Karena Tridharma Perguruan tinggi itu sendiri terdiri dari, Pendidikan, penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat. Dengan demikian, paling tidak pihak Perguruan Tinggi perlu menularkan antusiasme kepada seluruh mahasiswanya, dan menegaskan bahwa penelitian ilmiah adalah suatu investasi yang berharga untuk masa depan mahasiswa itu sendiri dan umat manusia, sejauh itu dilakukan dengan niat dan mutu penelitian yang tinggi.

Penelitian ilmiah dilakukan untuk menciptakan dan mengembangakn kapital intelektual (intellectual capital) suatu daerah dimana perguruan tinggi tersebut berada. Hasil dari penelitian ilmiah adalah kapital intelektual yang menjadi mesin pendorong kemajuan umat manusia. Pokok argumen ini tidak pernah boleh dilupakan.

Saya menyadari bahwa rumah bagi penelitian ilmiah adalah institusi pendidikan. Dan rumah pendidikan adalah sekolah dan perguruan tinggi. Oleh karena itu, lembaga-lembaga pendidikan tidak boleh berubah menjadi bisnis pengeruk keuntungan finansial semata, dan lupa perannya untuk memberi pencerahan dan panduan untuk terciptanya kehidupan bermasyarakat yang lebih baik untuk semua. Sekali lagi saya tegaskan, bahwa penelitian ilmiah, jika dilakukan dengan motivasi yang murni dan teknik penelitian yang baik, adalah investasi intelektual untuk mengembangkan suatu bangsa dan peradaban manusia secara keseluruhan.

Namun, sayangnya kondisi penelitian yang ada di lembaga-lembaga pendidikan kita kurang menekankan adanya sikap dan mentalitas ilmiah yang mendasari upaya untuk melahirkan kapital intelektual. Karena, mentalitas ilmiah adalah kemampuan untuk mengamati apa yang ada di kenyataan. Oleh karena itu, pengalaman sehari-hari bukan hanya sebagai obyek untuk dilihat, tetapi sebagai sesuatu yang diamati dan dialami. Orang yang memiliki mentalitas ilmiah selalu berpikir dan bertolak dari pengalaman yang diamati. Ia tidak hidup dalam takhayul, ataupun gosip.

Selanjutya, berpijak pada pengalaman dan pengamatan ini, maka tumbuhlah rasa penasaran di dalam diri seorang mahasiswa. Dan, rasa penasaran ini merupakan awal dari belajar, dan awal dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Rasa penasaran muncul karena rasa kagum terhadap apa yang ada, atau apa yang terjadi. Rasa penasaran mendorong penjelajahan intelektual maupun spiritual setiap manusia.

Bentuk konkret dari rasa penasaran adalah pertanyaan. Siapa yang berpikir, dia pasti bertanya. Bertanya adalah simbol dari tindak berpikir manusia. Pertanyaan yang bermutu jauh lebih berharga daripada jawaban-jawaban yang kaku, yang merasa sudah pasti akan rumusannya sendiri.

Pada akhirnya, pengembangan mentalitas ilmiah jauh lebih penting dari pada pengembangan material ekonomi semata. Orang bisa punya uang banyak, namun mentalitas ilmiahnya belum jadi, maka sikap hidupnya pun juga pasti tidak beradab. Kontradiksi semacam inilah yang banyak kita temukan di kehidupan sehari-hari dalam masyrakat kita. Misalnya: orang kaya tapi buang sampah sembarangan. Orang berakal-budi, namun menderita ‘LGBT’, dan lain-lain.  Ujung-ujungnya, faktor pendidikan, agama, dan lingkungan keluarga memainkan peranan sangat nyata untuk membentuk mentalitas ilmiah ini. Wallahu A’lamu Bishshawwab.